5. Kenangan yang belum pudar


12

Ray Tampan sudah lama berpendapat bahwa semakin tebal dompetnya, semakin luas juga dunianya. Kini, di awal 40-an, ia punya pemikiran baru. Semakin pagi ia bangun, semakin banyak juga yang dapat ia kejar. Ia sudah sampaikan ini di kantor. Anehnya, bukannya terima kasih yang didapatkan, malah banyak dari stafnya yang tidak menyambut dengan baik.

Pagi ini, ia berlomba dengan matahari. Ketika matahari masih malu-malu hadir, ia sudah sampai di kantor. Melihat sekeliling, ia tahu bahwa bukan hanya memenangkan perlombaan dengan matahari, ia juga orang pertama yang hadir di kantor. Kalau saja lampu kantor konsultan karir di unit sebelah tidak nyala, ia mungkin orang pertama yang hadir di lantai ini.

Ia perlu merombak beberapa hal seputar ide magang.dev nya. Yang pertama adalah kenapa harus lulusan perguruan tinggi. Kenapa tidak dari SMP sekalian. Tentu saja, perusahaan membutuhkan lulusan perguruan tinggi. Tapi, bukankah lulusan SMP pun perlu menentukan mereka akan ke mana nantinya? Sebagian mungkin akan memilih sekolah kejuruan, yang ada bermacam-macam.

Yang kedua adalah kenapa harus ilmu komputer. Kenapa tidak diperluas saja.

Perombakan ini perlu dimulai dengan menelepon Dr. Itor, yang biasanya, memang belum bangun. Tapi, pagi ini, ia bukan hanya belum bangun, tapi bahkan belum tidur. Tentu saja, karena pekerjaan. Siapa penyebabnya, tentu sudah jelas.

Seperti scheduler proses pada sistem operasi komputer yang mengatur proses mana yang harus dijalankan dan mana yang dihentikan sementara, Ray kemudian pindah ke agenda pekerjaan berikut.

Sejauh ini, ia--Si Tampan--dan rekan usahanya--Si Keren--adalah pemegang saham mayoritas. Dengan puluhan programmer dan hampir sepuluh proyek ERP yang sedang berjalan, ia tidak pernah khawatir dengan perusahaannya. Si Keren selalu bisa diandalkan untuk urusan operasional. Tapi, grafik pertumbuhannya memang melandai.

Sekarang, kalau ia ingin mencoba berbagai ide baru, dana yang diperlukan juga akan lumayan, terutama kalau ia ingin bergerak dengan cepat dan masif. Ia akan membutuhkan investor.

Scheduler sistem operasi bekerja lagi, dan ia pun pindah ke urusan lain. Kali ini, tidak sepenuhnya terkait pekerjaan.


13

Untuk mencapai tujuan yang lebih besar, kolaborasi tidaklah terhindarkan. Sarwo memahami ini. Setidaknya, ia berusaha. Setelah beberapa tahun berkarir, belasan tahun lalu, ia memutuskan untuk membangun sebuah tim kecil. Tim yang kemudian harus dirombak berkali-kali, dan akhirnya menyisakan Johan, Anto, dan Dr. Karto.

Pemahaman akan kolaborasi bahkan tersirat dalam Bakwan Pangsit Perkedel sebagai nama perusahaan. Tepung saja, bukanlah pangsit. Kol saja, bukanlah bakwan. Begitupun dengan singkong atau kentang saja, yang bukanlah perkedel. Perlu bahan lain. Perlu diolah. Memang butuh waktu. Tapi, bayangkan bakwan yang baru selesai digoreng. Itu saja sudah enak. Apalagi kalau ditambah pangsit dan perkedel.

Lalu, kalau memang ia memahami kolaborasi, kenapa mereka begini-begini saja? Kenapa Sarah datang, lalu pergi? Kenapa Rifti tidak melanjutkan magang? Kenapa Karto secepat kilat pergi, begitu dipinjam oleh Dr. Astriani? Ia paham Anto merindukan teman yang di Jawa, tapi apakah harus lebih sering kerja dari sana? Kenapa pula Johan sepertinya menyimpan rahasia? Dan, kenapa tidak ada lamaran magang yang masuk?

Pagi itu, di tengah hujan deras, Sarwo bertanya. Barangkali ke diri sendiri, barangkali ke Johan dan Anto. Johan melirik ke meja cemilan yang kosong, karena penjual singkong goreng langganan sedang libur. Mungkin itulah penyebabnya. Anto melirik ke pintu, menimbang apakah perlu (1) menawarkan untuk membeli cemilan lain, kemudian (2) menuju ke luar kota secepat mungkin. Dengan baju kaos, celana pendek, dan sendal, ia sudah tampak seperti pelancong.

Johan, melihat gelagat ini, memberi tanda. Lebih baik didiskusikan sekalian, sekarang.

"Sarwo, kita kolaborasi untuk apa sebenarnya?"

"Tentu saja supaya sistem klinik dan sistem konfeksi kita semakin banyak digunakan. Kita kan juga punya beberapa proyek software yang sedang berjalan." Sarwo menjawab dan memandang Johan, seolah dengan bertanya begitu, Johan sudah menjadi sinting.

"Rasanya sih, tidak begitu ya." Johan membalas dengan hati-hati. "Pertama, seperti aku bilang berkali-kali, tidak mudah jualan dengan nama perusahaan kita. Jangan lupa, kita tidak terkenal."

"Tapi kita bertahan kan? Pekerjaan baru tetap ada. Pemasukan kita juga masih lumayan."

"Bertahan iya, Sarwo. Tapi tidak berkembang. Kalian selalu fokus di teknis, sementara aku yang harus jualan. Bangun ulang dengan teknologi berbeda, sediakan API, tampilan responsif, lalu apa lagi nanti? Hampir tidak ada yang terasa bagi klien kita, kecuali repot setiap ada versi baru. Dan ingat, kita kalah fitur sama produk baru."

Si kalian--Sarwo dan Anto--saling berpandangan. Ucapan Johan ada benarnya.

Sarwo punya cita-cita bahwa sistem klinik dan konfeksi mereka akan digunakan secara meluas. Oleh karena itu, belakangan ia fokus menyediakan API agar dapat diintegrasikan dengan aplikasi lain. Ia juga bolak balik merancang ulang agar tetap berfungsi andaikata ada lonjakan penggunaan.

Anto lain lagi. Ia punya impian bahwa aplikasi mereka tersedia untuk semua platform. Desktop, web, mobile, kalau perlu jam tangan pintar, dapat mengakses sebagian atau keseluruhan fungsi aplikasi mereka. Oleh karena itu, alih-alih menambah fitur, belakangan ia lebih sering menghabiskan waktu mempelajari berbagai bahasa pemrograman yang diperlukan. Mungkin suatu hari, ia akan membuat bahasa pemrograman sendiri, dan memberi nama bahasanya seperti nama makanan. Sekaligus memastikan bukan saja program yang ditulis dengan bahasanya dapat berjalan di berbagai sistem operasi, melainkan juga dari versi-versi lama sampai versi terbarunya.

"Kalau dihitung, klien besar kita hanya ada 10. Tidak akan ada lonjakan penggunaan. Mereka juga hanya menggunakan desktop. Beberapa memang meminta mobile. Untuk apa semua kerepotan ini?" Demikianlah Johan, membawa mereka yang sedang bermimpi, kembali ke dunia nyata.

"Bagaimana mungkin kita bisa kalah fitur? Kita duluan sekian tahun. Yang di Bandung sudah protes ke kita. Integrasi ke mesin baru mereka kok belum selesai? Bukannya kalian habis dari sana setelah dari Jawa?"

Minggu lalu, selain banyak cemilan, Sarwo dan Anto membawa oleh-oleh laporan cuaca amatir. Menjelang sore, 14 Celcius di Kawah Putih, pas hujan. Sore hari, cerah, 23 Celcius di Lembang. Dan beberapa lokasi lainnya. Rapat dengan klien lama mereka di Bandung hanya dibahas sekilas.

Agak ragu, Johan melanjutkan, "Aku mungkin ingin istirahat. Sudah kupendam lama."

Seperti video yang di-pause, mereka semua terdiam. Hujan kebetulan juga sudah berhenti.

Sekian bulan lalu, Sarwo merasa mereka akhirnya akan berkembang. Kini, satu demi satu, semuanya pergi. Ataukah, sebenarnya hatinya yang duluan pergi dan memulai semua masalah ini?

"Sudahlah. Lebih baik kita cari makan dulu."


14

Sebuah MPV mewah berbelok masuk dan berhenti di depan lobi. Pintu gesernya terbuka, dan Pak Leo--dengan celana jeans biru dan kemeja putih lengan panjang yang digulung--turun dengan sigap. Beberapa petugas tampak menyapa. Setelah membalas dan tersenyum, ia pun masuk ke lobi, melewati turnstile gate, dan ikut menunggu lift bersama yang lain.

Dari kafe di lobi, Ray Tampan mengamati. Tempat ini salah satu rutinitas mingguan favoritnya, di luar urusan pekerjaan. Bukan saja suasananya nyaman, ia juga punya dua alasan. Ini gedung baru yang jauh lebih mewah, dan ia berharap suatu hari kantornya bisa pindah ke sini. Dan, tentu saja, ia senang berbagi waktu dan cerita dengan teman dekatnya.

"Itu siapa ya?"

"Oh, itu. Pak Leo. Yang barusan masuk kan? Dia punya saham di kawasan ini. Beberapa perusahaannya juga berkantor di sini. Gedung sendiri, he he."

"Hmm. Sibuk banget kali ya."

"Yah, begitulah. Sesekali kelihatan datang kok. Eh, gimana urusan magangnya? Kamu juga kayaknya ga kalah sibuk deh."

"Masih belum matang. Di pasaran kan, pemain-pemain lama sudah ada. Talenta mencari pekerjaan, perusahaan mencari talenta. Maunya sih anak-anak muda juga ga bingung mau ke mana. Jadi, benar-benar cocok. Kayak kita." Si Tampan mulai menggombal dan pembicaraan pun beralih ke topik-topik lainnya.


15

Sekembalinya di kantor, Ray terus memikirkan kemungkinan presentasi magang.dev ke Pak Leo. Si Keren menyapa, menanyakan apakah ia ingin melihat progress implementasi ERP di sebuah perusahaan manufacturing. Akan tetapi, pikirannya hanya pada bagaimana perusahaan tersebut menyeleksi talentanya. Si Keren mengatakan tim mereka berhasil menyediakan good customer service ke klien tersebut, namun Si Tampan bercanda dengan mengatakan bahwa good-looking juga sama pentingnya.

Berbeda dengan rekannya, Si Keren fokus pada ERP besar dimana mereka telah menjadi partner yang diperhitungkan, dan mengembangkan sejumlah produk dan layanan untuk mendukung implementasi ERP tersebut. Pertumbuhan yang melewati sejumlah tahapan tersebut menjadikan mereka tangguh dan teruji. Mereka tidak pernah menjual dengan harga murah sejak berhasil melakukan implementasi ERP di group perusahaan yang dipimpin Pak Benfano, belasan tahun yang lalu. Jaga kualitas, sabar, dan jaga kesehatan. Demikianlah ia selalu mengingat nasihat yang diberikan.

Seringkali, Ray terlalu fokus pada relasi dan ide baru. Pada masa-masa awal mereka, seringkali implementasi tidak dapat tertangani dengan baik. Untungnya, walau implementasi ERP tidak selalu mulus, dan sejumlah proyek software juga terkendala, kerjasama dan gaya kepemimpinan mereka mampu membawa perusahaan tetap berjalan.

Urusan layanan magang ini adalah contoh dimana Si Tampan mulai fokus pada hal baru. Si Keren mengikuti sekilas dan secara umum lebih tenang dengan pertumbuhan secara organik. Ia sangat fokus pada penjualan dan kualitas implementasi dengan sumber daya mereka sendiri.

Ray mengumpulkan tim barunya di sebuah ruangan khusus, yang berisikan tim data science, frontend, backend, dan Itor. Tenggat waktu Minimum Viable Product-nya tidak lama lagi. Perubahan terbarunya membutuhkan penyesuaian, bukan saja hanya pada arsitektur layanan dan backend, tapi juga pada frontend. Ia ingin setiap kalangan usia mendapatkan user experience yang tepat. Siswa-siswi SMP barangkali mengharapkan tampilan dan cara penggunaan yang berbeda dengan lulusan perguruan tinggi.

"Ray, tolong minta waktu. Kami perlu diskusikan perubahan ini. Perlu menambah tim. Kalau tidak, ngeri pokoknya." Kata Itor, tidak lama setelah Ray memasuki ruangan.

"OK," kata Ray, sambil mengamati ruangan tersebut dan muka-muka lelah di dalamnya. "Bagaimana kalau AR gabung ke sini?", lanjutnya, sambil mengamati coret-coretan di papan tulis. Abdul Rachman adalah manager senior andalan mereka ketika butuh gerak cepat, dan--semoga--tepat. Anak-anak baru dulunya memanggil beliau sebagai Pak AR. Begitupun dengan tim akunting, walau mungkin dengan maksud berbeda. Seiring waktu, hampir semuanya memanggilnya sebagai Pakar.

"Wah, dengan senang hati, Ray." Pakar, dengan pengalaman 20 tahunan, biasanya selalu ceplas ceplos, walau kadang situasi sedikit kurang cocok. Tim baru ini pasti akan terbiasa. Ia sendiri membutuhkan kehidupan yang lebih normal dan mulai memahami kenapa Dewi dari tim frontend menginginkan weekend yang tenang.

"Tolong kembalikan weekend dan kehidupan saya yang tenang, Pak Itor." Demikianlah kadang Dewi bercanda, memelas-setengah-berharap-kemudian-gagal, ketika ada kesempatan. Biasanya, ini disampaikan ketika ia selesai membuat dan push ke branch baru pada repo GitHub mereka. Branch baru diperlukan karena mereka seringkali melakukan eksperimen, tanpa ingin mempengaruhi branch utama pengembangan.

Dinaka dan Michelle Aurelia membutuhkan tambahan bantuan. Setelah mendapatkan dataset tertentu terkait pelamar kerja/hasil wawancara, mereka perlu membangun model untuk mengidentifikasi mana yang cocok, di tahap seawal mungkin. Untuk saat ini, mereka sedang bekerja dengan decision tree. Dari ekspresi muka mereka, tambahan anggota tim--atau sekalian dengan bonus liburan--tidak terhindarkan.

"Pak Itor, saya ada teman kuliah. Pintar dan bisa kerja dalam tim." Mereka berharap, teman lama mereka, Rifti, dapat bergabung.

"Silahkan, diikuti saja prosesnya. Supaya teman kalian bisa segera join."

Tim backend, Daniel, walau bangga dengan tanggung jawab besarnya, jelas kekurangan waktu. Ia senang dengan bergabungnya rekan kerja baru.

Menempati meja di pojok ruangan, Michelle William Tanoto barangkali adalah satu-satunya dari anggota tim kecil ini yang rupanya merasa cocok dan bahagia. Ia berbagi tugas dengan Dewi dan sudah menghasilkan banyak usulan terkait user interface/user experience. Dengan bangga, Ia menganggapnya sebagai hasil kerja keras plus kreatifitas plus rasa bingung. Dari sedikit waktu yang tersisa, ia bahkan sempat menulis cerita. Tim baru, mungkin OK juga.


16

Apabila Ray Tampan baru ingin mempertemukan--secara tepat--talenta dengan perusahaan, konsultan karir yang baru menempati unit sebelah telah sukses melakukan ini setidaknya selama 10 tahun. Hanya saja, mereka fokus pada sisi pengembangan karir. Dan, tentu saja, cerita sukses ini tidak terlepas dari peran pendiri dan direkturnya, Dr. Ford.

Gesit, selalu tampak sibuk, dan selalu mendorong orang untuk maju, Dr. Ford punya tiga jurus pamungkas. Yang pertama adalah klien disarankan untuk serius dan punya komitmen. Apabila konsultasi telah disepakati setiap minggu, maka tepatilah. Jangan molor menjadi sebulan sekali, karena, kalau yang itu, namanya gajian, bukan konsultasi.

Jurus keduanya adalah berani punya impian dan sekaligus berani kerja keras untuk mewujudkannya. Apalagi kalau masih berjiwa muda. Lelah sedikit, tidak apa-apa.

Jurus terakhir sangat unik. Sebagai seorang konsultan, Dr. Ford memiliki publikasi ilmiah yang menakjubkan. Ia berhasil mencari titik temu antara dunia teori dan praktek. Klien diharapkan untuk berani menggali lebih dalam ketika belajar atau apabila terdapat kendala.

Cerita soal jurus kantor sebelah inilah yang sedang disampaikan oleh Itor kepada Ray. Si Tampan ini baru saja mendapatkan konfirmasi dari teman dekatnya bahwa rekannya mungkin bisa mempertemukannya dengan Pak Leo. Tidak perlu menunggu terlalu lama, katanya. Siapkan dengan baik dan apabila ia beruntung, mereka dapat presentasi dalam waktu seminggu.

Konfirmasi ini hanya berarti satu hal sore ini. Ia harus ketemu dengan Dr. Ford, menjajaki kemungkinan kerjasama. Apapun bentuknya.

Ray akhirnya melangkahkan kaki ke kantor sebelah. Pada saat itulah, untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan Sarwo, yang sedang menunggu sesi konsultasi di ruang tunggu.


(bersambung)